Karya: Syekh Az-Zarnuji
Mukaddimah
Bismillahirrohmanirrohim
Dengan
menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.Segala puji bagi
Allah yang telah mengangkat harkat derajat manusia dengan ilmu dan amal, atas
seluruh alam. Salawat dan Salam semoga terlimpah atas Nabi Muhammad, pemimpin
seluruh umat manusia, dan semoga pula tercurah atas keluarga dan para
sahabatnya yang menjadi sumber ilmu dan hikmah.
Kalau
saya memperhatikan para pelajar (santri), sebenarnya mereka telah
bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, tapi banyak dari mereka tidak mendapat
manfaat dari ilmunya, yakni berupa pengalaman dari ilmu tersebut dan
menyebarkannya. Hal itu terjadi karena cara mereka menuntut ilmu salah, dan
syarat-syaratnya mereka tinggalkan. karena, barangsiapa salah jalan, tentu
tersesat tidak dapat mencapai tujuan. Oleh karena itu saya ingin menjelaskan
kepada santri cara mencari ilmu, menurut kitab-kitab yang saya baca dan menurut
nasihat para guru saya yang ahli ilmu dan hikmah. Dengan harapan semoga
orang-orang yang tulus ikhlas mendo'akan saya sehingga saya mendapatkan
keuntungan dan keselamatan di akherat. Begitu do'a saya dalam istikharah ketika
akan menulis kitab ini.
Kitab
ini saya beri nama Ta'limul
Muta'alim Thariqatta'allum. Yang
terdiri dari tiga belas pasal.
Pertama, menerangkan hakekat ilmu, hukum mencari ilmu, dan
keutamaannya.
Kedua,
niat dalam mencari ilmu.
Ketiga,
cara memilih ilmu, guru, teman, dan ketekunan.
Keempat,
cara menghormati ilmu dan guru
Kelima, kesungguhan dalam mencari ilmu, beristiqamah dan
cita-cita yang luhur.
Keenam,
ukuran dan urutannya
Ketujuh,
tawakal
Kedelapan,
waktu belajar ilmu
Kesembilan,
saling mengasihi dan saling menasehati
Kesepuluh,
mencari tambahan ilmu pengetahuan
Kesebelas,
bersikap wara' ketika menuntut ilmu
Kedua belas, hal-hal yang dapat menguatkan hapalan dan yang
melemahkannya.
Ketiga belas, hal-hal yang mempermudah datangnya rijki,
hal-hal yang dapat memperpanjang, dan mengurangi umur.
Tidak
ada penolong kecuali Allah, hanya kepada-Nya saya berserah diri, dan
kehadirat-Nya aku kembali.
FASAL 1
PENGERTIAN ILMU DAN FIQIH SERTA KEUTAMAANNYA.
A.
Kewajiban Belajar.
Rasulullah
saw bersabda : "Menuntut
ilmu wajib bagi muslim laki-laki dan muslim perempuan".
Perlu
diketahui bahwa, kewajiban menuntut ilmu bagi muslim laki-laki dan perempuan
ini tidak untuk sembarang ilmu, tapi terbatas pada ilmu agama, dan ilmu yang
menerangkan cara bertingkah laku atau bermuamalah dengan sesama manusia.
Sehingga ada yang berkata,
"Ilmu yang paling utama ialah ilmu Hal. Dan perbuatan yang paling mulia
adalah menjaga perilaku."
Yang dimaksud ilmu hal ialah ilmu agama islam, shalat misalnya.
Oleh
karena setiap orang islam wajib mengerjakan shalat, maka mereka wajib
mengetahui rukun-rukun dan sarat-sarat sahnya shalat, supaya dapat melaksanakan
shalat dengan sempurna.
Setiap
orang islam wajib mempelajari/mengetahui rukun maupun shalat amalan ibadah yang
akan dikerjakannya untuk memenuhi kewajiban tersebut. Karena sesuatu yang
menjadi perantara untuk melakukan kewajiban, maka mempelajari wasilah/perantara
tersebut hukumnya wajib. Ilmu agama adalah sebagian wasilah untuk mengerjakan
kewajiban agama. Maka, mempelajari ilmu agama hukumnya wajib. Misalnya ilmu
tentang puasa, zakat bila berharta, haji jika sudah mampu, dan ilmu tentang
jual beli jika berdagang.
Muhammad
bin Al-Hasan pernah ditanya mengapa beliau tidak menyusun kitab tentang zuhud,
beliau menjawab, "aku telah mengarang sebuah kitab tentang jual
beli." Maksud beliau adalah yang dikatakan zuhud ialah menjaga diri dari
hal-hal yang subhat (tidak jelas halal haramnya) dalam berdagang.
Setiap
orang yang berkecimpung di dunia perdagangan, wajib mengetahui cara berdagang
dalam islam supaya dapat menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan. Setiap
orang juga harus mengetahui ilmu-ilmu yang berkaitan dengan batin atau hati,
misalnya tawakal, tobat, takut kepada Allah, dan ridha. Sebab, semua itu
terjadi pada segala keadaan.
B. Keutamaan Ilmu.
Tidak
seorang pun yang meragukan akan pentingnya ilmu pengetahuan, karena ilmu itu
khusus dimiliki umat manusia. Adapun selain ilmu, itu bisa dimiliki manusia dan
bisa dimiliki binatang. Dengan ilmu pengetahuan.
Allah
Ta'ala mengangkat derajat Nabi Adam as. Diatas para malaikat. Oleh karena itu,
malaikat di perintah oleh Allah agar sujud kepada Nabi Adam as.
Ilmu
itu sangat penting karena itu sebagai perantara (sarana) untuk bertaqwa. Dengan
taqwa inilah manusia menerima kedudukan terhormat disisi Allah, dan keuntungan
yang abadi. Sebagaimana dikatakan Muhammad bin Al-Hasan bin Abdullah dalam
syairnya : "Belajarlah!
Sebab ilmu adalah penghias bagi pemiliknya. dia perlebihan, dan pertanda segala
pujian, Jadikan hari-harimu untuk menambah ilmu. Dan berenanglah di lautan ilmu
yang berguna."
Belajarlah
ilmu agama, karena ia adalah ilmu yang paling unggul. Ilmu yang dapat
membimbing menuju kebaikan dan taqwa, ilmu paling lurus untuk di pelajarai.
Dialah ilmu yang menunjukkan kepada jalan yang lurus, yakni jalan petunjuk.
Tuhan yang dapat menyelamatkan manusia dari segala keresahan. Oleh karena itu
orang yang ahli ilmu agama dan bersifat wara' lebih berat bagi setan daripada
menggoda seribu ahli ibadah tapi bodoh.
C. Belajar Ilmu Akhlaq
Setiap
orang islam juga wajib mengetahui/mempelajari akhlak yang terpuji dan yang
tercela, seperti watak murah hati, kikir, penakut, pemberani, merendah diri,
congkak, menjaga diri dari keburukan, israf (berlebihan), bakhil terlalu hemat
dan sebagainya. Sifat sombong, kikir, penakut, israf hukumnya haram. Dan tidak
mungkin bisa terhindar dari sifat-sifat itu tanpa mengetahui kriteria
sifat-sifat tersebut serta mengetahui cara menghilangkannya. Oleh karena itu
orang islam wajib mengetahuinya.
Asy-Syahid
Nasyiruddin telah menyusun kitab yang membahas tentang akhlak. Kitab tersebut
sangat bermutu, dan perlu dibaca. Karena setiap orang wajib memelihara
akhlaknya.
D. Ilmu Yang Fardu Kifayah dan Yang Haram dipelajari.
Adapun
mempelajari amalan agama yang dikerjakan pada saat tertentu seperti shalat
zenajah dan lain-lain, itu hukumnya fardhu kifayah. Jika di suatu tempat/daerah
sudah ada orang yang mempelajari ilmu tersebut, maka yang lain bebas dari
kewajiban. Tapi bila di suatu daerah tak ada seorangpun yang mempelajarinya
maka seluruh daerah itu berdosa. Oleh karena itu pemerintah wajib memerintahkan
kepada rakyatnya supaya belajar ilmu yang hukumnya fardhu kifayah tersebut. Pemerintah
berhak memaksa mereka untuk mereka untuk melaksanakannya.
Dikatakan
bahwa mengetahui/mempelajari amalan ibadah yang hukumnya fardhu ain itu ibarat
makanan yang di butuhkan setiap orang. Sedangkan mempelajari amalan yang
hukumnya fardhu kifayah, itu ibarat obat, yang mana tidak dibutuhkan oleh
setiap orang, dan penggunaannya pun pada waktu-waktu tertentu.
Sedangkan
mempelajari ilmu nujum itu hukumnya haram, karena ia diibaratkan penyakit yang
sangat membahayakan. Dan mempelajari ilmu nujum itu hanyalah sia-sia belaka,
karena ia tidak bisa menyelamatkan seseorang dari taqdir Tuhan.
Oleh
karena itu, setiap orang islam wajib mengisi seluruh waktunya dengan berzikir
kepada Allah, berdo'a, memohon seraya merendahkan diri kepadaNya, membaca Al-Qur'an,dan
bersedekah supaya terhindar dari mara bahaya.
Boleh
mempelajari ilmu nujum (ilmu falaq) untuk mengetahui arah kiblat, dan
waktu-waktu shalat.
Boleh
pula mempelajari ilmu kedokteran, karena ia merupakan usaha penyembuhan yang
tidak ada hubungannya dengan sihir, jimat, tenung dan lain-lainnya.Karena Nabi
juga pernah berobat.
Imam
Syafi'I rahimahullah berkata, "ilmu itu ada dua, yaitu ilmu piqih untuk mengetahui hukum
agama, dan ilmu kedokteran untuk memelihara badan."
E. Definisi Ilmu.
Ilmu
ditafsiri dengan : Sifat yang dimiliki seseorang, maka menjadi jelaslah apa
yang terlintas di dalam pengertiannya. Fiqih adalah: Pengetahuan tentang
kelembutan-kelebutan ilmu. Ujar Abu Hanifah : Fiqih adalah pengetahuan tentang
hal-hal yang berguna, yang berbahaya bagi diri seseorang. Ujarnya lagi : Ilmu
itu hanya untuk diamalkannya, sedang mengamalkan di sini berarti meninggalkan
orientasi demi akhirat.
Maka
seyogyanya manusia jangan sampai lengah diri dari hal-hal yang bermanfaat dan
berbahaya di dunia dan akhirat. Dengan demikian dia akan mengambil mana yang
bermanfaat dan menjauhi mana yang berbahaya, agar supaya baik akal dan ilmunya
tidak menjadi beban pemberat atas dirinya dan menambah siksanya. Kita
berlindung kepada allah dari murka dan siksanya.
Dalam
masalah kebaikan keistimewaan dan keutaman ilmu itu, banyaklah ayat-ayat
al-quran dan hadis-hadis shahih dan masyhur yang mengemukakannya. Namun kali
ini tidak kami kedepankan, agarlah uraian kitab ini tidak terlalu berkepanjangan.
FASAL II
NIAT DI WAKTU BELAJAR
- Niat Belajar.
Wajib
berniat waktu belajar. Sebab niat itu menjadi pokok dari segala hal,
sebagaimana sabda nabi saw : Sesungguhnya amal-amal perbuatan itu terserah
niatnya" Hadits shahih.
Dari
beliau pula diriwayatkan sebuah hadits : ''Banyak amal perbuatan yang berbentuk
amal dunia, lalu menjadi amal akhirat yang karena bururk niatnya maka menjadi
amal dunia."
- Niatan Baik dan Buruk.
Di
waktu belajar hendaklah berniat mencari Ridha Allah swt. Kebahagian akhirat,
memerangi kebodohan sendiri dan segenap kaum bodoh, mengembangkan agama dan
melanggengkan islam sebab kelanggengan islam itu harus diwujudkan dengan ilmu.
Zuhud dan taqwapun tidak sah jika tanpa berdasar ilmu.
Syaikhul
imam Ajall Burhanuddin Shahibul Hidayah menyanyikan syair gubahan sebagian
ulama :
- Hancur lebur, orang alim tak teratur
Lebih lebur, bila si jahil ibadah ngawur
- Keduanya menjadi fitnah,menimpa ganas di dunia
Atas
yang mengikutinya, sebagai dasar peri agama.
Dengan
belajar pula, hendaklah diniati untuk mensyukuri kenikmatan akal dan badan yang
sehat. Belajar jangan diniatkan untuk mencari pengaruh, kenikmatan dunia
ataupun kehormatan di depan sultan dan penguasai-penguasa lain.
Muhammad
Ibnul Hasan berucap: 'andaikan seluruh manusia itu manjadi budak belianku,
niscaya kumerdekakan seluruhnya dan bebaskan dari kekuasaanku."
- Kelezatan dan Hikmah Ilmu.
Siapa
saja telah merasakan kelezatan rasa ilmu dan amal, maka semakin kecillah
kegemarannya akan harta benda dunia. Syaikhul Imamil Ajall Ustadz Qawamuddin
Hammad bin Ibrahim bin ismail Ash-Shoffar Al-Anshoriy membacakan kami syair
imla' abu hanifah :
- Siapa saja gerangan, menuntut ilmu untuk hari kemudian untuklah dapat keutamaan, anugrah Allah penunjuk jalan
- Aduh, saja merugi, penuntut ilmu nan suci
Hanya buat sesuap nasi, dari hamba ilahi.
Tetapi
jikalau dalam meraih keagungan itu demi amar ma'ruf nahi munkar, memperjuangkan
kebenaran dan meluhurkan agama bukan untuk keperluan hawa nafsu sendiri
makadiperbolehkan sejauh batas telah dapat menegakkan amar ma'ruf nahi munkar
tersebut.
Penuntut
ilmu hendaknya memperhatikan apa yang tersebut diatas. Ia telah mengatasi
kepayahan yang cukup banyak, maka jangan sampai ilmu yang telah ia peroleh itu
digunakan sarana bendahara duniawi yang hina, sedikit nilainya dan segera
hancur ini. Syair menyebutkan :
- Dunia itu sedikit, dan paling sedikit
Pecintanyapun
hina, nan hina dina
- Sihir dunia, membuat tuli dan buta
Kebingungan,
tak tahu ke mana jalan
- Pantangan Ahli ilmu.
Orang
berilmu itu hendaklah jangan membuat dirinya sendiri menjadi hina lantaran
tamak terhadap sesuatu yang tidak semestinya, jangan sampai terjerumus ke dalam
lembah kehinaan ilmu dan ahli ilmu. Ia supaya berbuat tawadu' (sikap
tengah-tengah antara sombong dan kecil hati), berbuat iffah, yang keterangan
lebih jauhya bisa kita dapati dalam kitab akhlaq.
Syaikhul
imamil ajall ustadz ruknul islam yang terkenal sebagai sasterawan ternama
mengemukakan gubahan syi'irnya:
- Tata kerama, benar-benar budi orang taqwa
Ia menanjak tinggi, dengan sikap
- Ajaib, ajaiblah orang tidak tahu dirinya sendiri
Bahagiakah nanti, apa malah celaka diri ?
- Bagaimana waktu meninggalkan dunia, pungkasan umur nyawanya.
Suul khatimah, apa husnul khatimah?
- Keagungan, itu khusus sifat ar-rahman
Singkirlah, waspadalah!
Kepada
sahanat-sahabatnya, abu Hanifah berkata : ''besarkanlah putaran serban kalian,
dan perlebarlah lobang lengan baju kalian". ucapan ini dikemukakan agar
supaya ilmu dan ahli ilmu tidak terpandang remeh.
- Saran Khusus Buat pelajar.
Sebaiknya
pelajar bisa mendapatkan buku wasiat tulisan Abu Hanifah (yang tadinya) untuk
Yusuf Bin Khalid As-Simty waktu pulang kembali ketengah-tengah keluarganya. Dan
buku ini bisa didapatkan oleh yang mau mencarinya. Guru kita sendiri, yaitu
Syaikhul Imam Burhanul Immah Aliy Abu Bakar semoga Allah mensucikan ruhnya yang
mulya itu adalah juga memerintahkan kami waktu mau pulang ke daerah agar
menulis buku tersebut, dan kamipun melakukannya. Sang guru dan mufti (pemberi
fatwa) bidang pergaulan manusia, tidak boleh tidak juga memegangi buku wasiat
tersebut.
FASAL III
MEMILIH ILMU, GURU,TEMAN
DAN KETABAHAN BERILMU
A. Syarat-syarat Ilmu Yang Dipilih.
Bagi
pelajar, dalam masalah ilmu hendaklah memilih mana yang terbagus dan dibutuhkan
dalam kehidupan agmanya pada waktu itu, lalu yang untuk waktu yang akan datang.
Hendaknya
lebih dahulu mempelajari ilmu tauhid, mengenali Allah lengkap dengan dalilnya.
Karena orang yang imannya hanya taklid sekalipun menurut pendapat kita sudah
syah, adalah tetap berdosa karena ia tidak mau beristidlal dalam masalah ini.
Hendaknya
pula memiluh ilmi-ilmu yang kuna, bukan yang baru lahir. Banyak ulama berkata :
"Tekunilah ilmu kuna, bukan yang baru saja ada." Awas, jangan sampai
terkena pengaruh perbantahan yang tumbuh subur setelah habisnya ualama besar,
sebab menjurus untuk menjauhkan pelajar dari mengenali fiqh, hanya menghabiskan
usia dengan tanpa guna, menumbuhkan sikap anti-pati/buas dan gemar bermusuhan.
Dan itulah termasuk tanda-tanda kiamat akan tiba serta lenyapnya fiqih dan
pengetahuan-pengetahuan lain, demikianlah menurut hadits.
B. Syarat-syarat Guru Yang dipilih
Dalam
memilih guru, hendaklah mengambil yang lebih alim, waro' dan juga lebih tua
usianya. Sebagaimana Abu Hanifah setelah lebih dahulu memikir dan
mempertimbangkan lebih lanjut, maka menentukan pilihannya kepada tuan Hammad
Bin Abu Sulaiman.
Dalam
hal ini dia berkata : "beliau saya kenal sebagai orang tua yang budi
luhur, berdada lebar serta penyabar. Katanya lagi: saya mengabdi di pangkuan
tuan Hammad Bin Abu Sulaiman, dan ternyata sayapun makin berkembang."
C. Bermusyawarah
Abu
Hanifah berkata : Saya mendengar salah seorang ahli hikmah Samarkand berkata:
Ada salah seorang pelajar yang mengajakku bermusyawarah mengenai
masalah-masalah mencari ilmu, sedang ia sendiri telah bermaksud ke Bochara
untuk belajar disana.
Demikianlah,
maka seharusnya pelajar suka bermusyawarah dalam segala hal yang dihadapi.
demikian, karena Allah Swt memerintahkan Rasulullah Saw. Agar memusyawarahkan
segala halnya. Toh tiada orang lain yang lebih pintar dari beliau, dan masih
diperintahkan musyawarah, hingga urusan-urusan rumah tangga beliau sendiri.
Ali
ra berkata : "Tiada seorangpun yang rusak karena musyawarah", Ada
dikatakan : "Satu orang utuh, setengah orang dan orang tak berarti. Orang
utuh yaitu yang mempunyai pendapat benar juga mau bermusyawarah; sedang
setengah orang yaitu yang mempunyai pendapat benar tetapi tidak mau
bermusyawarah, atau turut bermusyawarah tetapi tidak mempunyai pendapat; dan
orang yang tidak berarti adalah yang tidak mempunyai pendapat lagi pula tidak
mau ikut musyawarah." Kepada Sufyan Ats-Tsuriy, Ja'far Ash-Shodik ra
berkata: "Musyawarahkan urusanmu dengan orang-orang yang bertaqwa kepada
Allah."
Menuntut
ilmu adalah perkara paling mulya, tetapi juga paling sulit. Karena itulah,
musyawarah disi lebih penting dan diharuskan pelaksanaannya.
Al-Hakim
berucap : "Jikalau engkau pergi ke Bochara, janganlah engkau ikut-ikut
perselisihan para imam. Tenanglah lebih dulu selama dua bulan, guna
mempertimbangkan dan memilih guru. Karena bisa juga engkau pergi kepada orang
alim dan mulai belajar kepadanya, tiba-tiba pelajarannya tidak menarik dan
tidak cocok untukmu, akhirnya belajarmupun tidak dapat berkah. Karena itu,
pertimbangkanlah dahulu selama dua bulan untuk memilih gurumu itu, dan bermusyawarahlah
agar tepat, serta tidak lagi ingin berpindah ataupun berpaling dari guru
tersebut. Dengan begitu, engkau mendapat kemantapan belajar di situ, mendapat
berkah dan banyak kemampaatan ilmu yang kamu peroleh."
D. Sabar dan Tabah Dalam Belajar
Ketahuilah!
Sabar dan tabah itu pangkal keutamaan dalam segala hal, tetapi jarang yang bisa
melakukan. Sebagaimana syaiir dikatakan:
- Segala sesuatau, maunya tinggi yang di tuju
- Tapi jarang, hati tabah di emban orangAda dikatakan : "Keberanian ialah sabar sejenak." Maka sebaiknya pelajar mempunyai hati tabah dan sabar dalam belajar kepada sang guru, dalam mempelajari suatu kitab jangan sampai ditinggalkan sebelum sempurna dipelajari, dalam satu bidang ilmu jangan sampai berpindah bidang lain sebelum memahaminya benar-benar, dan juga dalam tempat belajar jangan sampai berpindah kelain daerah kecuali karena terpaksa. Kalau hal ini di langgar, dapat membuat urusan jadi kacau balau, hati tidak tenang, waktupun terbuang dan melukai hati sang guru.
Sebaiknya
pula, pelajar selalu memegangi kesabaran hatinya dalam mengekang kehendak hawa
nafsunya. Seorang penyair berkata :
- Hawa nafsu, dialah hina
- Tiap jajahan nafsu, berarti kalahan si hina
Juga
berhati sabar dalam menghadapi cobaan dan bencana. Ada dikatakan : "Gudang
simpanan cita, terletak pada banyaknya bencana."
Di
syairkan untuk saya ada yang berpendapat bahwa syair ini dari gubahan Ali bin
Abu Tholib sebagai berikut:
- Tak bisa kau raih ilmu, tanpa memakai 6 senjata
- Kututurkan ini padamu, kan jelaslah semuanya.
- Cerdas, sabar dan loba, jangan lupa mengisi saku
- Sang guru mau membina, kau sanggup sepanjang waktu
- Memilih Teman
Tentang
memilih teman, hendaklah memilih yang tekun, waro, bertabiat jujur serta mudah
memahami masalah. Menyingkiri orang pemalas, penganggur, banyak bicara, suka
mengacau dan gemar memfitnah.
Syiir
dikatakan:
- Jangan bertanya siapakah dia? Cukup kau tahu oh itu temannya.karena siapapun dia, mesti berwataq seperti temannya.
- Bila kawanya durhaka, singkirilah dia serta merta.bila bagus budinya, rangkullah dia, berbahagia!
Disyi'irkan
buatku :
- Jangan kau temani sipemalas, hindari segala halnya, banyak orang shaleh menjadi kandas, sebab rerusuh sandarannya
- Menjalar tolol kepada cendikia, amat cepat terlalu laksana api bara, ia padam di atas abu
Nabi
saw bersabda : Semua bayi itu dilahirkan dalam keadaan kesucian islam, hanya
kedua orang tuanyalah yang membuatnya jadi yahudi, nasrani, atau majusi.
Ada
dikatakan kata hikmah dalam bahasa persi :
- Teman yang durhaka, lebih berbisa daripada ular yang bahaya
Demi
Allah Yang Maha Tinggi, Nan Maha Suci
- Teman buruk, membawamu ke neraka jahim
Teman
bagus, mengajakmu ke sorga na'im
Ada
Disyi'irkan:
- Bilakau ingin mendapat ilmu dari ahlinya
Atau
ingin tahu yang gaib dan memberitakannya
- maka dari nama bumi, ambillah pelajaran tentang isinya
dan
dari oarang yang di temani, ibaratkanlah tentang dia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar